Desa Kemranggon, yang terletak di Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, bukan hanya dikenal karena kekayaan budaya dan semangat gotong royong warganya, tetapi juga karena kehidupan keagamaan yang berjalan harmonis dan penuh nilai-nilai kearifan lokal. Di tengah arus modernisasi yang kian cepat, masyarakat Desa Kemranggon tetap memegang teguh ajaran agama dan menjaga tradisi spiritual yang telah diwariskan turun-temurun. Kegiatan keagamaan menjadi bagian tak terpisahkan dari dinamika kehidupan sosial masyarakat di desa ini.
Landasan Kehidupan Beragama
Mayoritas warga Desa Kemranggon memeluk agama Islam. Nilai-nilai keislaman sangat membumi dalam kehidupan sehari-hari, tercermin dari aktivitas ibadah, tata cara pergaulan, hingga kegiatan sosial kemasyarakatan. Meski demikian, masyarakat desa tetap menjunjung tinggi sikap toleransi, menghormati perbedaan, dan menjaga kerukunan antarwarga.
Kehidupan beragama tidak hanya diukur dari intensitas ibadah personal, tetapi juga dari kekompakan warga dalam menyelenggarakan berbagai kegiatan keagamaan secara kolektif. Baik di tingkat dusun, RT, maupun skala desa, kegiatan keagamaan selalu menjadi ruang yang mempererat tali silaturahmi sekaligus sarana pembinaan akhlak dan moral generasi muda.
Lembaga dan Sarana Keagamaan
Di Desa Kemranggon terdapat beberapa masjid dan mushola yang tersebar di setiap dusun. Tempat-tempat ibadah ini menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat, mulai dari shalat berjamaah, pengajian, tadarus, hingga musyawarah warga. Setiap masjid dikelola oleh takmir yang dipilih oleh warga setempat dan secara rutin mengadakan agenda keagamaan dengan melibatkan berbagai kelompok usia.
Selain masjid, desa juga memiliki TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur’an) yang menjadi tempat anak-anak belajar membaca, menghafal, dan memahami Al-Qur’an sejak usia dini. Para ustadz dan ustadzah di TPQ adalah tokoh agama setempat yang memiliki komitmen kuat untuk mendidik generasi muda agar tumbuh sebagai pribadi yang beriman dan berakhlak mulia.
Jenis Kegiatan Keagamaan
Berbagai kegiatan keagamaan di Desa Kemranggon dilaksanakan secara rutin maupun insidental. Berikut adalah beberapa kegiatan utama yang berjalan secara aktif dan mendapat dukungan penuh dari masyarakat:
1. Pengajian Rutin
Pengajian rutin diadakan setiap pekan di masjid atau mushola, baik untuk ibu-ibu, bapak-bapak, maupun kelompok remaja. Materi pengajian meliputi kajian tafsir Al-Qur’an, hadis, fiqih ibadah, serta pembahasan nilai-nilai kehidupan Islami. Pengajian ini tidak hanya memperkaya pengetahuan agama, tetapi juga menjadi media tukar pikiran dan mempererat persaudaraan antarwarga.
2. Peringatan Hari Besar Islam
Kegiatan peringatan hari besar Islam seperti Maulid Nabi, Isra' Mi'raj, Nuzulul Qur’an, dan Tahun Baru Islam diselenggarakan dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Acara biasanya diisi dengan ceramah keagamaan, doa bersama, santunan anak yatim, serta hiburan bernuansa religi seperti hadrah dan qosidah.
3. Tadarus dan Khatmil Qur’an
Pada bulan Ramadan, tradisi tadarus Al-Qur’an dilaksanakan setiap malam di masjid dan mushola, melibatkan anak-anak, remaja, hingga orang tua. Puncaknya adalah kegiatan khatmil Qur’an, di mana seluruh juz Al-Qur’an selesai dibaca secara berjamaah, diikuti dengan doa bersama dan buka puasa bersama.
4. Pendidikan Agama untuk Anak dan Remaja
Melalui TPQ dan Madrasah Diniyah, anak-anak Desa Kemranggon mendapatkan pendidikan agama yang terstruktur. Mereka belajar membaca dan menulis huruf Arab, hafalan surat-surat pendek, serta pengenalan dasar-dasar ibadah. Kegiatan ini berlangsung setiap sore setelah shalat Ashar.
5. Kegiatan Remaja Masjid
Remaja Desa Kemranggon tergabung dalam Remaja Masjid yang aktif mengelola kegiatan seperti kajian remaja, pelatihan muadzin, lomba ceramah, dan berbagai kegiatan sosial. Remaja Masjid juga menjadi pelaksana kegiatan keagamaan saat Ramadan dan Idul Fitri, termasuk pengumpulan zakat fitrah dan takbiran keliling.
6. Ziarah dan Tradisi Keagamaan Lokal
Tradisi ziarah kubur menjelang Ramadan dan menjelang Lebaran masih kuat dijalankan. Warga secara bersama-sama mengunjungi makam leluhur, membersihkannya, serta mengirimkan doa. Kegiatan ini menjadi refleksi spiritual sekaligus sarana mengenalkan nilai-nilai penghormatan terhadap orang tua dan leluhur kepada generasi muda.
Dukungan Pemerintah Desa dan Tokoh Agama
Pemerintah Desa Kemranggon mendukung penuh seluruh kegiatan keagamaan dengan memberikan fasilitas, anggaran, serta koordinasi dengan tokoh agama dan masyarakat. Kepala desa dan perangkat desa kerap hadir dalam acara keagamaan sebagai bentuk dukungan moral dan administratif. Tokoh agama, seperti ustadz, kyai, dan ustadzah, juga memainkan peran penting dalam memberikan bimbingan spiritual kepada masyarakat.
Kolaborasi antara pemerintah desa dan tokoh agama menjadi kekuatan utama dalam menjaga kestabilan sosial dan nilai-nilai keagamaan di tengah masyarakat. Dengan peran yang saling melengkapi, kegiatan keagamaan berjalan tertib dan membawa manfaat nyata bagi warga.
Nilai dan Dampak Positif
Kegiatan keagamaan di Desa Kemranggon memiliki sejumlah dampak positif yang dirasakan oleh masyarakat, antara lain:
-
Meningkatkan pemahaman keagamaan dan praktik ibadah masyarakat.
-
Menumbuhkan rasa persaudaraan, kebersamaan, dan solidaritas sosial.
-
Mengurangi potensi konflik sosial melalui pendekatan spiritual dan dialog.
-
Membentuk karakter anak-anak dan remaja yang religius dan berakhlak baik.
-
Menjadikan desa sebagai lingkungan yang damai, rukun, dan penuh toleransi.
Penutup
Kegiatan keagamaan di Desa Kemranggon, Susukan, Banjarnegara, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Dalam setiap helaan napas kehidupan sosial, spiritualitas tetap menjadi landasan utama yang menuntun masyarakat dalam berpikir, bersikap, dan bertindak.
Dengan semangat kebersamaan dan komitmen untuk menjaga nilai-nilai religius, masyarakat Desa Kemranggon terus menjalankan berbagai kegiatan keagamaan sebagai wujud nyata ibadah dan pengabdian kepada Tuhan serta sesama. Ke depan, kegiatan keagamaan ini diharapkan terus berkembang dan menjadi kekuatan utama dalam membentuk masyarakat desa yang religius, harmonis, dan beradab.